Popular Posts
-
Objek Wisata Air Terjun Lano adalah objek wisata alam yang menarik. berlokasi di kawasan hutan perawan di Desa Lano, Kecamat...
-
Sungai Salikung ialah sungai yang terletak di Desa Salikung Kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong - Kalimantan Selatan dan telah ma...
-
Matan di hulu Mambawa rakit bagandengan Bahanyut matan di udik Barito Awal hari baganti minggu Siang dan malam ...
-
Masjid Pusaka Banua Lawas adalah sebuah masjid tertua yang terletak di desa Banua Lawas , Kabupaten Tabalong , Kalimantan Selatan . Masj...
-
Goa Liang Kantin terletak di Jaro, Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Tempat wisata ini berjarak sekitar 52 Km dari pusat kota. Anda...
-
"Kikicak" adalah kue khas dari Kalimantan selatan yang berisi inti kelapa manis , makanan ini sering di jumpai di pasar-pasar ...
-
Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan , yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia da...
-
TEMPAT TINGGAL MASYARAKAT PRASEJARAH GUA BABI DESA RANDU KECAMATAN MUARA UYA, ISI RIWAYAT SINGKAT: Berdasarkan penelitian yang...
-
Lauk Paliat/Gangan Paliat adalah Salah satu masakan khas oang Tabalong. dimana asal sumber masakan ini adalah dari Kota Kelua, y...
-
Rumah Banjar atau Rumah ba-anjung adalah rumah tradisional suku Banjar . Pada umumnya arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain ...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Translate
Mengenai Saya
Pengikut
Entri Populer
-
Objek Wisata Air Terjun Lano adalah objek wisata alam yang menarik. berlokasi di kawasan hutan perawan di Desa Lano, Kecamat...
-
Sungai Salikung ialah sungai yang terletak di Desa Salikung Kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong - Kalimantan Selatan dan telah ma...
-
Matan di hulu Mambawa rakit bagandengan Bahanyut matan di udik Barito Awal hari baganti minggu Siang dan malam ...
-
Masjid Pusaka Banua Lawas adalah sebuah masjid tertua yang terletak di desa Banua Lawas , Kabupaten Tabalong , Kalimantan Selatan . Masj...
-
Goa Liang Kantin terletak di Jaro, Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Tempat wisata ini berjarak sekitar 52 Km dari pusat kota. Anda...
-
"Kikicak" adalah kue khas dari Kalimantan selatan yang berisi inti kelapa manis , makanan ini sering di jumpai di pasar-pasar ...
-
Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan , yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia da...
-
TEMPAT TINGGAL MASYARAKAT PRASEJARAH GUA BABI DESA RANDU KECAMATAN MUARA UYA, ISI RIWAYAT SINGKAT: Berdasarkan penelitian yang...
-
Lauk Paliat/Gangan Paliat adalah Salah satu masakan khas oang Tabalong. dimana asal sumber masakan ini adalah dari Kota Kelua, y...
-
Rumah Banjar atau Rumah ba-anjung adalah rumah tradisional suku Banjar . Pada umumnya arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain ...
Minggu, 26 Januari 2014

Objek Wisata Air Terjun Lano adalah objek wisata alam yang menarik. berlokasi di kawasan hutan perawan di Desa Lano, Kecamatan Jaro dengan jarak sekitar +2 Km dari Jalan penghubung Kaltim Kalsel dan berjarak tempuh sekitar +70 Km dari pusat kota Tanjung - Tabalong (2jam perjalanan darat),
Setelah sampai di tempat tsb kita disambut oleh Gerbang masuk Wisata Air Terjun Lano , untuk menuju ke tempat tsb kita harus berjalan kaki dan menyusuri jalan setapak dan melewati sungai riam kecil.
Topografi dari lokasi ini adalah tanah berbukit dan bergunung-gunung dengan pemandangan sekitar berupa keindahan hutan perawan yang menarik. Ketinggian Air terjun Lano ini mencapai kurang lebih 17 Meter.Sumber photo : Bapak Erwan dan http://langsat2011.blogspot.com
Minggu, 20 Oktober 2013
Masjid Pusaka Banua Lawas adalah sebuah masjid tertua yang terletak di desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Masjid ini juga sering disebut Masjid Pasar Arba karena pada hari rabu (arba), jumlah para pengunjung/peziarah lebih banyak dari hari-hari yang lain.
Masjid ini selain menjadi tempat ibadah, juga menjadi tonggak atau bukti sejarah diterimanya Islam bagi suku Dayak Tabalong.
Masjid
ini ramai dikunjungi atau diziarahi umat Islam, termasuk masyarakat
dari Kaltim. Di Masjid Pusaka ini, selain masih tersimpan beduk asli dan
petaka sepanjang 110 cm. Keberadaannya sejak masjid dibangun tahun 1625
diprakarsai Khatib Dayan dan saudaranya Sultan Abdurrahman (dari
kerajaan Banjar yang berpusat di Kuin).
Khatib Dayan dibantu tokoh-tokoh masyarakat Dayak, juga Datu Ranggana, Datu Kartamina, Datu Saripanji, Langlang Buana, Taruntung Manau, Timba Sagara, Layar Sampit, Pambalah Batung dan Garuntung Waluh.
Di teras depan Masjid Pusaka, ada dua tajau (guci tempat penampungan air yang dulunya digunakan suku Dayak untuk memandikan anak yang baru lahir). Walaupun sudah dimakan sengat matahari, namun dua tajau yang usianya mencapai 400 tahun itu, menurut Kaum Masjid Pusaka Abdullah Syarif, tak berubah warnanya.
Para peziarah ke sana tak lupa membawa pulang air dalam tajau itu karena diyakini warga memiliki berkah digunakan cuci muka atau diminum. Kebanyakan mereka datang ke Masjid Pusaka pada hari Rabu karena bertepatan hari Pasar Arba di Banua Lawas.
Mereka menyempatkan diri ziarah, selain untuk beribadah antara lain sembahyang sunat Tahiyatul Masjid dan membaca surat Yasin, juga ada yang mengaku membayar nazar, karena harapannya terkabul.
Mesjid Pusaka Banua Lawas tempo dulu :
Deskripsi Bangunan
Masjid Pusaka Banua Lawas berdiri di atas lahan berpagar besi dan di bagian depan terdapat pintu gerbang yang terbuat dari beton dan dua pintu dari besi. Halaman sebelah kiri (selatan) terdapat kompleks makam yang berhadapan langsung dengan sungai Hanyar. Sedangkan di sebelah kanan (utara) dan belakang (barat) masjid juga terdapat kompleks makam yang cukup luas. Makam-makam ini adalah makam kuno, tetapi banyak yang tidak diketahui. Diantara makam-makam yang berada di sebelah utara masjid terdapat makam Penghulu Rasyid, seorang pemimpin dan penyebar agama Islam pada waktu itu.
Masjid Pusaka BAnua Lawas berdenah segi empat berarsitektur tradisional. Bahannya sebagian besar tebuat dari kayu. Menurut informasi dari masyarakat, bahwa bangunan asli masjid ini beronstruksi panggung, tetapi sekarang lantai punggungnya sudah diurug dengan tanah dan ditutup ubin. Bangunan masjid memiliki serambi dan bangunan utama. Di dalam bangunan utama berdiri tiang-tiang, mihrab, mimbar.
Serambi
Untuk masuk ke serambi harus melalui enam anak tangga yang terbuat dari pasangan bata. Di samping kanan tangga terdapat dua buah guci tempat menampung air untuk cuci kaki. Serambi terletak di sekeliling masjid dan memiliki kandang (pagar) yang terbuat dari besi. Ukuran serambi depan yaitu lebar 3,10 m, panjang 20,28 m. Serambi muka ditopang oleh tujuh buah tiang terbuat dari kayu ulin, dan di antara tiang terdapat kandang (semacam pagar teralis/jeruji besi) yang jumlahnya masing-masing tidak sama. Kandang serambi depan dapat dibuka kea rah dalam dan dapat ditutup kembali.
Di tengah ruangan serambi depan terdapat lima buah tiang yakni yang dilapis dengan semen serta ubin pada seperempat bagian bawah. Kandang serambi sebelah kiri dan kanan masjid masing-masig mempunyai delapan tiang, sedangkan kandang serambi belakang mempunyai sepuluh tiang.
Lantai serambi ditutup dengan keramik (jenis mozaik) bermotif geometris dan polos dengan warna kebiru-biruan. Dipojok kiri serambi depan terdapat sebuah bedug yang sudah tua. Bedug ini terbuat dari kayu bulat yang dilubangi dan ditutup dengan kulit sapi.
Ruang Utama
Ruang utama masjid berukuran 13,85 m x 13,85 m. Bangunan ini dipotong oleh 1`6 tiang, empat buah tiang diantaranya merupakan tiang utama (soko guru) dengan ukuran cukup besar, rata-rata berdiameter 41 cm. Sedangkan tiang-tiang lain diameternya rata-rata berukuran 27 cm. Semua tiang yang berada di dalam masjid ini berpenampang segi delapan dan dicat dengan warna putih. Penampang tiang segi delapan ini dekerjakan dengan alat yang sangat sederhana yakni dengan cara ditatah, hal ini Nampak pada permukaan tiang yang masih kasar.
Diantara keempat tiang utama terdapat sebuah tangga lingkar terbuat dari kayu dengan anak tangga berjumlah 12 buah melingkari sebuah tiang bulat hingga keatas. Di ujung tangga bagian atas terdapat semacam balkon berdenah segi empat sebagai tempat bilal mengumandangkan adzan. Tiang-tiang utama di dalam masjid mempunyai sambungan pada masing-masing ujungnya. Tiap sambungan ini tebuat dari bilah-bilah kayu yang diikat menjadi satu yang menghubungkan atap tingkat pertama ke atap tingkat kedua, kemudian kea tap tingkat ketiga.
Dinding ruang utama masjid terbuat dari papan ulin yang dipasang susun vertical dan dicat warna putih dan hijau muda. Pada dinding depan terdapat pintu masuk berjumlah tiga buah dan jendela sepuluh buah. Masing-masing pintu dan jendela memiliki dua daun pintu dan dua daun jendela. Di atas pintu dan jendela sampai ke plafon dipasng kaca bercorak Eropa dengan warna biru, hijau muda, dan merah muda. Daun pintu maupun jendela berbentuk ram dengan kisi-kisi terbuat dari kayu, jumlah kisi-kisi setiap daun pintu maupun jendela 25 bilah.
Pada dinding masjid sebelah kiri terdapat lima buah pintu. Di atas pintu terdapat lobang angina tau ventilasi (dahi lawang) berhiaskan ukiran tembus bermotif daun-daunan atau flora, namun sepintas lalu ventilisasi tersebut tampak seperti motif kepala singa yang disamarkan. Dinding masjid sebelah kanan juga mempunyai lima buah pintu dengan bentuk yang sama dengan pintu-pintu sebelah kiri., Pintu-pintu tersebut juga mempunyai ventilasi di atasnya sama dengan ventilasi pada pintu-pintu dinding masjid sebelah kiri. Dinding belakang menyatu dengan ruangan pengiriman (mihrab). Di bagian ini ada dua buah pintu yang masing-masing berada di sebelah kanan dan kiri maihrab. Bentuk pintu dan ventilasinya maupun warna cat sama dengan pintu-pintu lainnya.
Lantai ruang utama agak tinggi dari tanah dasar (diurug) dan di tutup dengan ubin teraso berwarna hijau muda, berukuran 20 x 20 cm. Setiap empat buah pasangan ubin dipasang pula satu baris ubin bermotif sebagai garis batas shaf untuk sholat berjamaah. Bangunan ruang utama masjid ini beratap tiga tingkat berdenah segi empat. Atap paling atas atau tingkat ketiga berbentuk pyramid, atapnya sirap dilapis dengan seng. Begitu pula atp kedua dan pertama juga terbuat dari sirap yang dilapisi dengan seng sehingga jika dilihat dari luar semua atapnya memakai seng.
Antara atap dan tingkat pertama, kedua dan ketiga terdapat semacam celah (lubang angin) yang dipasang kaca bening. Kerangka kaca tersebut bentuknya seperti susunan bata berkotak-kotak. Jika dilihat dari dalam, seluruh atap masjid mempunyai langit-langit/plafon. Atap pertama plafonnya terbuat dari papan tripleks/plywood yang dipasang seperti susunan batu bata. Plafon seperti ini juga terdapat pada selasar yang terdapat di sekeliling masjid. Sedangkan plafon atap kedua dan ketiga terbuat dari bilah-bilah papan yang dipasang secara membujur kearah Timur dan Barat.
Bangunan mihrab dibangun menyatu dengan bangunan ruang utama, terutama pada dinding dan lantainya, tetapi mempunyai atap/kubah tersendiri. Bangunan mihrab berdenah segi delapan, atapnya dua tingkat dan diantara kedua tingkat atap tersebut terdapat celah/pemisah berupa dinding kaca. Kaca ini dipasang berkotak-kotak seperti pasangan bata. Jumlah kotak kaca pada masing-masing bidang adalah sepuluh kotak. Dinding bidang sebelah timur hanya dipasang dengan papan dalam posisi vertical. Atap mihrab tingkat pertama dankedua masih beratapkan sirap, namun kubahnya terbuat dari seng. Kubah mihrab bergaya Timur Tengah dan mempunyai pataka dipuncaknya dengan ragam hias yang lebih sederhana disbanding pataka yang terdapat pada ruang utama. Mihrab mempunyai jendela sebanyak enam buah namun tidak mempunyai pintu keluar. Jendela tersebut berada pada dinding/ penampang sebelah barat atau persis beraa di bawah dinding kaca yang memisahkan antara atap pertama dengan atap kedua.
Masing-masing jendela berukuran 0,50 x 1,61 m dan satu buah jendela mempunyai dua buah daun jendela yang dipasang kaca warna warni ,mengililingi kaca bening. Diantara enam buah jendela tersebut, terdapat empat buah jendela yang mempunyai ventilasi namun ditutup sengan kaca bening dan diberi teralis besi. Di atas ventilasi tersebut masih ada dinding terbuat dari kaca yang menempel langsung dengan atap pertama . Celah yang memisahkan atap pertama dengan kedua, terdapat semacam jendela/lubang cahaya yang dipasang kaca dan pada sebelah dalam dipasang papan dari kayu ulin secara vertical yang tampak seperti dinding. Langit-langit bagian dalam mihrab juga dipasang palfon bercat putih terbuat dari papan yang dipasang membujur arah timur barat.
Lantai dalam mihrab terbuat dari ubin teraso yang kualitasnya cukup baik, hiasannya bermotif flora (bunga) dalam bentuk segi empat. Batas ruang dalam mihrab dengan ruang utama ada semacam gapura berbentuk setengah lingkaran dan tepat di bagian atasnya terdapat pula hiasan berbentuk kubah terbalik.
Di dalam mihrab terdapat mimbar tempat khotib menyampaikan khotbah. Mimbar tersebut bertangga di bagian mukanya dengan jumlah anak tangga sebanyak tiga buah. Mimbar berbentuk kotak segi empat dan mempunyai ruang di dalamnya. BAngunan ini di bagian atas dpan berbentuk lengkungan setengah lingkaran. Di samping kiri dan kanan mimbar terdapat semacam jendela namun tidak berdaun pintu. Mimbar dilengkapi dengan sebuah tongkat yang terbuat dari kayu ulin yang pada ujungnya memiliki dua mata tombak terbuat dari besi (dwisula). Tangga mimbar mempunyai pegangan di kiri dan kananya. Pegangan tersebut berbentuk semacam lilitan akar. Di dinding belakang dan atas mimbar terdapat ukiran yang dipasang terbalik, artinya ukiran tersebut hanya dapat dilihat dari dalam mimbar (lewat jendela dan pintu mimbar). Ukiran ini bermotif salur-salur daun dan bunga-bungan. Menurut informasi ukiran ini dulunya berada di bagian kiri dan kanan mimbar sebelah bawah dan merupakan peninggalan Penghulu Rasyid. Mimbar dan tangganya bercat putih, kecuali pada pegangan anak tangga dicat warna hijau.
Bangunan Lain
Untuk kepentingan masjid, maka dibuatlah bangunan baru sebagai sarana yang letaknya terpisah dengan bangunan utama. Bangunan ini berada di halaman masjid. Bangunan sarana meliputi banhgunan air wudhu dan terbuka yang dibangun sekitar tahun 1972, bak air wudhu tertutup di bangun pada tahun 1993, dan dibangun pula tempat parkir sepeda.
Pesan : Semoga Masjid ini menjadi pusat perhatian pemerintah setempat agar selalu Dirawat dan Dijaga kelestariannya tanpa menghilangkan nilai Agama dan Budaya.
Minggu, 15 September 2013
Matan di hulu
Mambawa rakit bagandengan
Bahanyut matan di udik Barito
Awal hari baganti minggu
Siang
dan malam
Waktu
hari baganti hari
Istilah
urang mancari rajaki
Kada
talapas lawan gawi
Panas hujan kada manjadi papantangan
Kada heran tatap dirasaakan
Mananjak batang sambil barami-ramian
Akhirnya sampai katujuan a..a..a..
Inilah nasib manjadi urang
pambatangan
Amun nasib sudah ditantuakan
Insya Allah ada harapan
2x (Repeat)
Senin, 25 Februari 2013
"Tanjung Puri adalah salah satu nama Tempat Obyek Wisata yang ada di Kab.Tabalong Kal-Sel, konon Tanjung Puri ini adalah sebuah Kerajaan dan ini adalah sebagian Hikayat dari Kerajaan Tanjung Puri"
Dahulu kala ada kerajaan bernama Kerajaan Tanjung Puri. Rajanya bernama Raja Halim Mangku Praja, permaisurinya Atika Rara Dirana. Raja dan permaisurinya baik hati. Mereka mempunyai dua putri yang cantik jelita: si sulung bernama Putri Roro Sulastri, si bungsu Putri Galuh Sewangi. Kedua putri itu berbeda sekali perangainya. Putri Roro Sulastri berwatak keras, angkuh dan sombong. Putri Galuh Sewangi lemah lembut, baik dan rendah hati.
“Anakku, kalian sudah mulai dewasa. Sudah saatnya kalian mencari pendamping hidup. Ayah sudah tua. Takkan selamanya ayah menjadi raja di kerajaan ini,” kata baginda kepada kedua putrinya.
“Ya, Ayahanda…,” sahut Putri Galuh Mewangi dengan lemah-lembut.
“Walaupun nanti Ayahanda tak ada lagi, tapi siapa yang lebih kaya dari kita? Sepeninggal ayahanda, kami tak akan kelaparan. Aku tak mau kawin dengan rakyat biasa,” Putri Roro Sulastri menimpali pembicaraan ayahnya dengan sombong.
“Jangan menilai orang dari harta, pangkat dan kedudukannya saja, Roro. Lihatlah hatinya,” sahut ayahnya.
Pandangan hidup dua putri itu amat bertolak belakang. Putri Roro Sulastri menganggap nasihat ayahnya hanya sebagai angin lalu, sedangkan Putri Galuh Sewangi mencamkannya benar-benar, dan dalam hati berjanji akan mematuhinya.
Berkat abdi kerajaan yang setia mendampingi dan memberikan petuah, ilmu dan pendidikan kepada dua orang putri raja itu, tersohorlah nama mereka ke mana-mana. Pangeran dari kerajaan seberang mendengar, bahwa Kerajaan Tanjung Puri memiliki dua orang putri yang cantik rupawan. Di kalangan rakyat jelata pun, nama kedua putri itu sudah tidak asing lagi.
Beberapa bulan kemudian, Raja Halim Mangku Praja jatuh sakit. Kepada kedua putrinya, ia beramanat:
“Anak-anakku, sebelum meninggalkan kalian, kuharap kalian sudah punya suami, sebagai pendamping hidup kalian kelak,” kata Raja Halim, terbatuk-batuk menahan sakit.
Dilanda kesedihan, air mata Putri Galuh Sewangi menetes perlahan. Putri Galuh Sewangi amat mencintai ayahnya. Hati kecilnya berkata, kalau ada orang yang dapat menyembuhkan sakit ayahnya, jika perempuan akan dijadikannya saudara, kalau laki-laki akan dijadikannya suami.
Lain Putri Galuh Sewangi, lain pula Putri Roro Sulastri. Putri sulung itu lebih suka berdandan dan berpesta, tak peduli apa pun yang terjadi, termasuk penyakit ayahnya sendiri. Wajahnya tak sedikit pun memancarkan kesedihan.
Dengan napas satu-satu dan sisa semangat hidupnya, Raja Halim bertitah kepada punggawa kerajaan, “Pengawal! Umumkan ke pelosok negeri, bahwa aku akan mengawinkan kedua putriku dengan siapa pun yang mereka pilih. Soal syarat, kuserahkan sepenuhnya kepada mereka untuk menentukannya…”
***
Rakyat kerajaan ramai membicarakan dua putri raja itu. Dalam suasana duka, saat baginda raja sedang sakit, para pemuda dan rakyat jelata berbisik-bisik membicarakan kecantikan dua putri raja itu.
“Duhai, Putri Roro dan Putri Galuh, maukah kau menjadi istriku?” kata seorang pemuda kampung kepada teman-temannya.
“Alaaahhh… Mana mau putri raja sama kamu?!”
“Jangan bercermin di kaca yang retak!” sahut yang lain.
“Terserah akulah. Memangnya, mengkhayal dilarang?”
“Ya, tidak. Terserah kamulah, asal jangan sampai gila saja!” sahut temannya yang lain lagi.
Tak lama berselang, datang beberapa pengawal kerajaan, mengumumkan titah raja. Pengawal membacakan titah yang ditulis langsung oleh Raja Halim Mangku Praja.
“Wahai, rakyat Kerajaan Tanjung Puri… Pengumuman, pengumuman…! Aku, Raja Halim Mangku Praja, akan menikahkan kedua putriku dengan siapa pun yang mereka pilih. Barang siapa yang ingin mengikuti sayembara ini, silakan datang ke istana untuk mengetahui syaratnya. Tertanda, Raja Halim Mangku Praja…”
***
Sepekan setelah pengumuman, tak seorang pun berani datang untuk meminang dua putri Raja Halim Mangku Praja. Bukannya warga tak tertarik, tapi mereka sadar diri.
Sementara itu, penyakit Raja Halim Mangku Praja semakin sehari semakin memburuk. Beberapa tabib terkenal sudah didatangkan, tapi tak seorang pun mampu menyembuhkan penyakitnya.
Di Kampung Haruai, dekat Kerajaan Tanjung Puri, ada pemuda yang berniat datang ke istana untuk meminang putri raja. Pemuda itu buruk rupa. Karena wajahnya jelek sekali, senyumannya bukannya enak dipandang, malahan membuat takut orang. Pemuda itu bernama Joko Jaroli.
Di kerajaan seberang, ada pula putra mahkota bernama Pangeran Hanung Prabu Cakra. Wajahnya tampan, bijaksana dan ramah. Pangeran Hanung juga beniat mempersunting putri Kerajaan Tanjung Puri. Kepergian Hanung dikawal sejumlah prajurit.
Hampir bersamaan, tibalah kedua pemuda itu di istana Kerajaan Tanjung Puri. Merekaa terpukau dengan kecantikan Putri Roro Sulastri dan Putri Galuh Sewangi.
“Wahai, Putri Galuh Sewangi… Aku ingin jadi pendamping hidupmu,” kata Pangeran Hanung dengan percaya diri.
“Sebentar, Pangeran Hanung. Ada syarat yang harus engkau penuhi. Apabila pangeran dapat menyembuhkan penyakit ayahandaku, aku bersedia jadi istrimu,” sahut Putri Galuh Sewangi.
Pangeran Hanung mengobati Raja Halim Mangku Praja dengan membacakan mantra. Tapi, setelah beberapa kali berusaha, penyakit raja tak kunjung sembuh. Dengan menahan rasa malu, penuh sesal dan kecewa, ia mundur ke belakang.
Giliran Joko Jaroli dipanggil. Setelah mengucapkan mantra, air suci yang dibawanya direguk dan disemburkannya ke sekujur tubuh raja. Ajaib, seketika Raja Halim Mangku Praja duduk di tempat tidur dan sembuh dari sakitnya.
Sesuai janjinya, dengan tulus iklas Putri Galuh Sewangi menerima Joko Jaroli sebagai suaminya, menerimanya apa adanya. Pangeran Hanung mengakui kekalahannya, tapi ia tak sudi menyunting Putri Roro Sulastri. Meskipun cantik, tabiat Putri Roro Sulastri yang buruk membuat Pangeran Hanung kehilangan selera.
“Maafkan aku, Putri Roro! Aku tak suka dengan sifatmu yang suka menghina dan merendahkan orang lain,” tampik Pangeran Hanung.
“Mengapa kau tidak mau denganku? Aku cantik dan kaya raya. Semuanya sudah kumiliki. Siapa yang bisa menyaingiku?” sahut Putri Roro.
“Nah, kesombonganmu itulah yang yang membuat aku tidak suka.”
Mandengar jawaban itu, Putri Roro marah dan memaki-maki Pangeran Hanung beserta prajurit dan dan orang-orang di sekitarnya.
“Kurang ajar! Dasar buaya, kamu, Pangeran Hanung! Bidawang! Timpakul! Kamu juga, Joko! Kamu jelek, bau, dekil, berkurap, buaya danau! Aku tak sudi jadi kakak iparmu!”
Putri Galuh Sewangi hanya dapat menangis melihat sifat kakaknya yang tetap angkuh dan sombong, apalagi saat menghina calon suaminya, Joko Jaroli.
Seketika itu pula, di siang bolong itu, tiba-tiba petir membahana membelah angkasa. Suara gemuruh terdengar di kejauhan, makin lama makin mendekat. Tiba-tiba, tiang-tiang istana retak, tumbang dan roboh. Pepohonan di alun-alun tumbang berjatuhan, tanah dan bumi rekah dan terbelah.
Semua orang panik dan menjerit ketakutan, berlarian lintang pukang meninggalkan istana. Jerit tangis dan teriakan minta tolong terdengar di mana-mana. Rakyat Kerajaan Tanjung Puri panik dan tak berdaya di tengah bencana yang mengamuk membabi buta. Gelombang banjir selama berhari-hari menyapu dan meluluhlantakkan istana, bangunan, kampung-kampung dan permukiman seluruh warga kerajaan.
Alkisah, Kerajaan Tanjung Puri pun musnah.
Yang tersisa kemudian hanya sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Objek Wisata Tanjung Puri. Air danaunya konon berasal dari air mata Putri Galuh Sewangi. Setiap malam Jumat, di danau itu konon kadang tercium bau wangi.
Konon, danau itu dihuni buaya dan bidawang yang besar sekali, tapi orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. Ada juga tabu yang masih dipercaya oleh sebagian warga. Pasangan yang akan menikah, konon tabu datang ke sana, kalau tak ingin kapuhunan , karena dikariau buaya.
Sumber :http://datutadungmura2012.wordpress.com
Dahulu kala ada kerajaan bernama Kerajaan Tanjung Puri. Rajanya bernama Raja Halim Mangku Praja, permaisurinya Atika Rara Dirana. Raja dan permaisurinya baik hati. Mereka mempunyai dua putri yang cantik jelita: si sulung bernama Putri Roro Sulastri, si bungsu Putri Galuh Sewangi. Kedua putri itu berbeda sekali perangainya. Putri Roro Sulastri berwatak keras, angkuh dan sombong. Putri Galuh Sewangi lemah lembut, baik dan rendah hati.
“Anakku, kalian sudah mulai dewasa. Sudah saatnya kalian mencari pendamping hidup. Ayah sudah tua. Takkan selamanya ayah menjadi raja di kerajaan ini,” kata baginda kepada kedua putrinya.
“Ya, Ayahanda…,” sahut Putri Galuh Mewangi dengan lemah-lembut.
“Walaupun nanti Ayahanda tak ada lagi, tapi siapa yang lebih kaya dari kita? Sepeninggal ayahanda, kami tak akan kelaparan. Aku tak mau kawin dengan rakyat biasa,” Putri Roro Sulastri menimpali pembicaraan ayahnya dengan sombong.
“Jangan menilai orang dari harta, pangkat dan kedudukannya saja, Roro. Lihatlah hatinya,” sahut ayahnya.
Pandangan hidup dua putri itu amat bertolak belakang. Putri Roro Sulastri menganggap nasihat ayahnya hanya sebagai angin lalu, sedangkan Putri Galuh Sewangi mencamkannya benar-benar, dan dalam hati berjanji akan mematuhinya.
Berkat abdi kerajaan yang setia mendampingi dan memberikan petuah, ilmu dan pendidikan kepada dua orang putri raja itu, tersohorlah nama mereka ke mana-mana. Pangeran dari kerajaan seberang mendengar, bahwa Kerajaan Tanjung Puri memiliki dua orang putri yang cantik rupawan. Di kalangan rakyat jelata pun, nama kedua putri itu sudah tidak asing lagi.
Beberapa bulan kemudian, Raja Halim Mangku Praja jatuh sakit. Kepada kedua putrinya, ia beramanat:
“Anak-anakku, sebelum meninggalkan kalian, kuharap kalian sudah punya suami, sebagai pendamping hidup kalian kelak,” kata Raja Halim, terbatuk-batuk menahan sakit.
Dilanda kesedihan, air mata Putri Galuh Sewangi menetes perlahan. Putri Galuh Sewangi amat mencintai ayahnya. Hati kecilnya berkata, kalau ada orang yang dapat menyembuhkan sakit ayahnya, jika perempuan akan dijadikannya saudara, kalau laki-laki akan dijadikannya suami.
Lain Putri Galuh Sewangi, lain pula Putri Roro Sulastri. Putri sulung itu lebih suka berdandan dan berpesta, tak peduli apa pun yang terjadi, termasuk penyakit ayahnya sendiri. Wajahnya tak sedikit pun memancarkan kesedihan.
Dengan napas satu-satu dan sisa semangat hidupnya, Raja Halim bertitah kepada punggawa kerajaan, “Pengawal! Umumkan ke pelosok negeri, bahwa aku akan mengawinkan kedua putriku dengan siapa pun yang mereka pilih. Soal syarat, kuserahkan sepenuhnya kepada mereka untuk menentukannya…”
***
Rakyat kerajaan ramai membicarakan dua putri raja itu. Dalam suasana duka, saat baginda raja sedang sakit, para pemuda dan rakyat jelata berbisik-bisik membicarakan kecantikan dua putri raja itu.
“Duhai, Putri Roro dan Putri Galuh, maukah kau menjadi istriku?” kata seorang pemuda kampung kepada teman-temannya.
“Alaaahhh… Mana mau putri raja sama kamu?!”
“Jangan bercermin di kaca yang retak!” sahut yang lain.
“Terserah akulah. Memangnya, mengkhayal dilarang?”
“Ya, tidak. Terserah kamulah, asal jangan sampai gila saja!” sahut temannya yang lain lagi.
Tak lama berselang, datang beberapa pengawal kerajaan, mengumumkan titah raja. Pengawal membacakan titah yang ditulis langsung oleh Raja Halim Mangku Praja.
“Wahai, rakyat Kerajaan Tanjung Puri… Pengumuman, pengumuman…! Aku, Raja Halim Mangku Praja, akan menikahkan kedua putriku dengan siapa pun yang mereka pilih. Barang siapa yang ingin mengikuti sayembara ini, silakan datang ke istana untuk mengetahui syaratnya. Tertanda, Raja Halim Mangku Praja…”
***
Sepekan setelah pengumuman, tak seorang pun berani datang untuk meminang dua putri Raja Halim Mangku Praja. Bukannya warga tak tertarik, tapi mereka sadar diri.
Sementara itu, penyakit Raja Halim Mangku Praja semakin sehari semakin memburuk. Beberapa tabib terkenal sudah didatangkan, tapi tak seorang pun mampu menyembuhkan penyakitnya.
Di Kampung Haruai, dekat Kerajaan Tanjung Puri, ada pemuda yang berniat datang ke istana untuk meminang putri raja. Pemuda itu buruk rupa. Karena wajahnya jelek sekali, senyumannya bukannya enak dipandang, malahan membuat takut orang. Pemuda itu bernama Joko Jaroli.
Di kerajaan seberang, ada pula putra mahkota bernama Pangeran Hanung Prabu Cakra. Wajahnya tampan, bijaksana dan ramah. Pangeran Hanung juga beniat mempersunting putri Kerajaan Tanjung Puri. Kepergian Hanung dikawal sejumlah prajurit.
Hampir bersamaan, tibalah kedua pemuda itu di istana Kerajaan Tanjung Puri. Merekaa terpukau dengan kecantikan Putri Roro Sulastri dan Putri Galuh Sewangi.
“Wahai, Putri Galuh Sewangi… Aku ingin jadi pendamping hidupmu,” kata Pangeran Hanung dengan percaya diri.
“Sebentar, Pangeran Hanung. Ada syarat yang harus engkau penuhi. Apabila pangeran dapat menyembuhkan penyakit ayahandaku, aku bersedia jadi istrimu,” sahut Putri Galuh Sewangi.
Pangeran Hanung mengobati Raja Halim Mangku Praja dengan membacakan mantra. Tapi, setelah beberapa kali berusaha, penyakit raja tak kunjung sembuh. Dengan menahan rasa malu, penuh sesal dan kecewa, ia mundur ke belakang.
Giliran Joko Jaroli dipanggil. Setelah mengucapkan mantra, air suci yang dibawanya direguk dan disemburkannya ke sekujur tubuh raja. Ajaib, seketika Raja Halim Mangku Praja duduk di tempat tidur dan sembuh dari sakitnya.
Sesuai janjinya, dengan tulus iklas Putri Galuh Sewangi menerima Joko Jaroli sebagai suaminya, menerimanya apa adanya. Pangeran Hanung mengakui kekalahannya, tapi ia tak sudi menyunting Putri Roro Sulastri. Meskipun cantik, tabiat Putri Roro Sulastri yang buruk membuat Pangeran Hanung kehilangan selera.
“Maafkan aku, Putri Roro! Aku tak suka dengan sifatmu yang suka menghina dan merendahkan orang lain,” tampik Pangeran Hanung.
“Mengapa kau tidak mau denganku? Aku cantik dan kaya raya. Semuanya sudah kumiliki. Siapa yang bisa menyaingiku?” sahut Putri Roro.
“Nah, kesombonganmu itulah yang yang membuat aku tidak suka.”
Mandengar jawaban itu, Putri Roro marah dan memaki-maki Pangeran Hanung beserta prajurit dan dan orang-orang di sekitarnya.
“Kurang ajar! Dasar buaya, kamu, Pangeran Hanung! Bidawang! Timpakul! Kamu juga, Joko! Kamu jelek, bau, dekil, berkurap, buaya danau! Aku tak sudi jadi kakak iparmu!”
Putri Galuh Sewangi hanya dapat menangis melihat sifat kakaknya yang tetap angkuh dan sombong, apalagi saat menghina calon suaminya, Joko Jaroli.
Seketika itu pula, di siang bolong itu, tiba-tiba petir membahana membelah angkasa. Suara gemuruh terdengar di kejauhan, makin lama makin mendekat. Tiba-tiba, tiang-tiang istana retak, tumbang dan roboh. Pepohonan di alun-alun tumbang berjatuhan, tanah dan bumi rekah dan terbelah.
Semua orang panik dan menjerit ketakutan, berlarian lintang pukang meninggalkan istana. Jerit tangis dan teriakan minta tolong terdengar di mana-mana. Rakyat Kerajaan Tanjung Puri panik dan tak berdaya di tengah bencana yang mengamuk membabi buta. Gelombang banjir selama berhari-hari menyapu dan meluluhlantakkan istana, bangunan, kampung-kampung dan permukiman seluruh warga kerajaan.
Alkisah, Kerajaan Tanjung Puri pun musnah.
Yang tersisa kemudian hanya sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Objek Wisata Tanjung Puri. Air danaunya konon berasal dari air mata Putri Galuh Sewangi. Setiap malam Jumat, di danau itu konon kadang tercium bau wangi.
Konon, danau itu dihuni buaya dan bidawang yang besar sekali, tapi orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. Ada juga tabu yang masih dipercaya oleh sebagian warga. Pasangan yang akan menikah, konon tabu datang ke sana, kalau tak ingin kapuhunan , karena dikariau buaya.
Sumber :http://datutadungmura2012.wordpress.com
Minggu, 20 Januari 2013

Cara membuat kue(wadai) Kikicak :
Bahan :
- 150 gr tepung ketan
- 1 sdm tepung terigu,
- 3 lembar daun pandan , iris tipis.
- 150 ml air
- Sejumput garam.
- 3 tetes pewarna hijau
Rebusan :
- 1 liter air
- 2 sdm minyak
- 2 lembar daun pandan
Inti /Unti Kelapa :
- 150 gr kelapa parut, pilih yang agak muda.
- 150 gr gula merah, sisir
- 150 ml air
- 2 lembar daun pandan
- Sejumput garam
Cara :
- Terlebih dulu kita bikin inti/unti. Masukkan air, daun pandan dan gula merah, masak hingga gula larut.
- Masukkan kelapa parut dan garam, masak sambil diaduk terus dan airnya mengering, angkat sisihkan.
- Blender daun pandan dan air, saring, ambil airnya.
- Campur tepung ketan, terigu dan garam, tuangi sebagian dari air pandan tadi, masukkan juga pewarnanya, uleni , bila masih belum kalis, beri air lagi, terus uleni hingga kalis dan bisa di bentuk. , sisihkan.
- Rebus bahan rebusan hingga mendidih .
- Sementara itu buat bulatan-bulatan dari adonan sebesar kelereng.
- Bila air rebusan sudah mendidih, cemplungin bulatan-bulatan tadi , tapi sebelumnya di pipihkan dulu , masak hingga semuanya mengapung, angkat dinginkan.
- Sajikan dengan inti/unti kelapa
Sabtu, 19 Januari 2013
Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup.
Upaya untuk melindungi budaya Banjar ini, telah diakui oleh pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM RI beberapa motif sasirangan sebagai berikut :
- Iris Pudak
- Kambang Raja
- Bayam Raja
- Kulit Kurikit
- Ombak Sinapur Karang
- Bintang Bahambur
- Sari Gading
- Kulit Kayu
- Naga Balimbur
- Jajumputan
- Turun Dayang
- Kambang Tampuk Manggis
- Daun Jaruju
- Kangkung Kaombakan
- Sisik Tanggiling
- Kambang Tanjung
Menurut Sahibul Hikayat atau cerita rakyat, di sekitar abad XII sampai XIV pada kerajaa Dipa kain sasirangan pertama kali di buat yaitu manakala Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas lanting balarut banyu (di atas rakit mengikuti arus sungai). Menjelang akhir tapa nya, rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung.Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini.
Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin. Itulah kain calapan/sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
Itulah sejarah singkat asal usul kain sasirangan. Arti kata sasirangan sendiri di ambil dari kata “sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur”. Sesuai dengan proses pembuatannya, Di jelujur, di simpul jelujurnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.
Sasirangan menurut tetua adat Banjar dulunya di pakai untuk pengobatan orang sakit, dan juga di gunakan sebagai laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung untuk perempuan) dan lain sebagainya. Kain ini juga di pakai untuk upacara-upacar adat Banjar. Sekarang Sasirangan bukan lagi di peruntukkan hanya untuk spiritual, tapi sudah jadi pakaian kegiatan sehari-hari.
Di Pemerintahan Daerah Kalimantan Selatan, Sasirangan di sejajarkan dengan Batik. *Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 91 tahun 2009 tentang standaarisasi Pakaian Dinas pegawai Negeri sipil di lingkungan Pemprov Kalsel*. Pegawai negri sipil di bebaskan memilih untuk memakai Sasirangan atau pun Batik di hari yang sudah di tentukan.
Berikut beberapa contoh motif sasirangan :
Kambang kacang, Bayam raja
Kulat karikit, Gigi haruan, Iris pudak, Ular lidi.
Ramak sahang, Daun katu, galumbang.
Daun Jaruju, Tampuk Manggis.
Kangkung kaumbakan, Umbak sinapur karang.
Sarigading (Iris Gagatas), Kambang Sasaki.
Jumat, 18 Januari 2013
Lauk Paliat/Gangan
Paliat adalah Salah satu masakan khas oang Tabalong. dimana asal
sumber
masakan ini adalah dari Kota Kelua, yang tepatnya lagi dari sebuah desa
kecil yang
namanya adalah Desa Paliat, Desa Paliat sendiri berjarak kurang lebih 18
Km dari ibukota Tabalong/Kota
Tanjung dan memakan waktu kira-kira 20 menit perjalanan normal. nama
Gangan Paliat ini diambil dari nama Desa tersebut yaitu Paliat.
Didalam
gangan paliat, ikan utamanya adalah ikan Baung, bisa juga digantikan
dengan Ikan Gabus, Ikan Tauman dan bisa juga dengan Udang. Gangan
paliat ini tidak hanya terkenal di kota Kelua dan Tanjung saja, namun
kelezatan masakan ini mampu mengundang orang-orang dari luar daerah
seperti Amuntai, Paringin, Barabai dan kota lainnya hanya untuk datang ingin mencicipi gangan paliat tersebut.
Umumnya, pemilik warung gangan Paliat adalah warga Desa Paliat. Namun, mencari masakan gangan Paliat tak perlu lagi ke Desa Paliat. Karena penjual masakan itu sudah menyebar di Kabupaten Tabalong. Seperti dilakoni Hj Mariam warga Desa Paliat RT 2, yang berjualannya Jumat dan Sabtu di kawasan Terminal Transit Regional Desa Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, sedangkan Sabtu sampai Kamis di Pasar Kelua, lalu Senin di Tamiyang Layang, Kalimantan Tengah.
Ditemui di lokasi berjualannya di samping Mal Thaybah kawasan terminal Mabuun, Ny Mariam didampingi sang suami Hj Zainuddin menceritakan, dia pernah mengikuti pameran dagang bertajuk The 5 Th SMEs’CO Festival gelaran Departemen Perindagkop, di Jakarta Convention Center dan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Yang menggembirakan, selama pameran pada 12-14 April 2007, Kabupaten Tabalong dengan menampilkan Gangan Paliat mampu menarik perhatian pengunjung. Kalau kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan menonjolkan barang khas daerah masing-masing, justru gangan Paliat terlihat lebih diminati.
“Siang hari kan pada lapar. Jadi, Gangan Paliat diserbu pengunjung yang bukan hanya warga Banjar saja. Seorang warga Jakarta yang bernama Ahmad Faruk, dia adalah pemilik restoran khas Indonesia di Singapura, mengajak kerjasama untuk membawa Gangan Paliat ke Singapura,” kata Ny Mariam.
Dikatakan suami Mariam, H Zainuddin. ketertarikan Ahmad Faruk disebabkan gangan Paliat mempunyai citra rasa nikmat dan hieginis. “Dia cenderung memilih penganan tidak berbau unsur kimia. Nikmat tidak berkurang tapi tinggi nilai kesehatannya. Kendati berlemak tapi diimbangi asam kuit yang mampu mengurangi masalah lambung atau gangguan pencernaan,”
Bumbu makanan ini 80 % terbuat dari kunyit dicampur santan kental dan asam kuit. Bumbu lainnya, kemiri, laos, daun serai, cabe merah, bawang merah. Ditambah penyedap rasa, air, garam, ikan basah semisal baung, patin, pipih, haruan, udang dan lain-lain.
Umumnya, pemilik warung gangan Paliat adalah warga Desa Paliat. Namun, mencari masakan gangan Paliat tak perlu lagi ke Desa Paliat. Karena penjual masakan itu sudah menyebar di Kabupaten Tabalong. Seperti dilakoni Hj Mariam warga Desa Paliat RT 2, yang berjualannya Jumat dan Sabtu di kawasan Terminal Transit Regional Desa Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, sedangkan Sabtu sampai Kamis di Pasar Kelua, lalu Senin di Tamiyang Layang, Kalimantan Tengah.
Ditemui di lokasi berjualannya di samping Mal Thaybah kawasan terminal Mabuun, Ny Mariam didampingi sang suami Hj Zainuddin menceritakan, dia pernah mengikuti pameran dagang bertajuk The 5 Th SMEs’CO Festival gelaran Departemen Perindagkop, di Jakarta Convention Center dan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Yang menggembirakan, selama pameran pada 12-14 April 2007, Kabupaten Tabalong dengan menampilkan Gangan Paliat mampu menarik perhatian pengunjung. Kalau kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan menonjolkan barang khas daerah masing-masing, justru gangan Paliat terlihat lebih diminati.
“Siang hari kan pada lapar. Jadi, Gangan Paliat diserbu pengunjung yang bukan hanya warga Banjar saja. Seorang warga Jakarta yang bernama Ahmad Faruk, dia adalah pemilik restoran khas Indonesia di Singapura, mengajak kerjasama untuk membawa Gangan Paliat ke Singapura,” kata Ny Mariam.
Dikatakan suami Mariam, H Zainuddin. ketertarikan Ahmad Faruk disebabkan gangan Paliat mempunyai citra rasa nikmat dan hieginis. “Dia cenderung memilih penganan tidak berbau unsur kimia. Nikmat tidak berkurang tapi tinggi nilai kesehatannya. Kendati berlemak tapi diimbangi asam kuit yang mampu mengurangi masalah lambung atau gangguan pencernaan,”
Bumbu makanan ini 80 % terbuat dari kunyit dicampur santan kental dan asam kuit. Bumbu lainnya, kemiri, laos, daun serai, cabe merah, bawang merah. Ditambah penyedap rasa, air, garam, ikan basah semisal baung, patin, pipih, haruan, udang dan lain-lain.
Bagi yang belum pernah mencobanya silahkan aja datang ke Kota Kelua.
Sumber :http://kotakalua.blogspot.com
Sumber :http://kotakalua.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)











